Entah kenapa begitu sulit memberimu semangat secara langsung, karena aku merasa kini kita sedikit jauh. Bukan karena jarak, sungguh jarak rumah kita tak berjauhan, namun aku khawatir justru hati kita yang mulai berjarak. Aku kembali sungkan, seperti awal ketika kita mulai bersama kembali selepas kuliah. Kusadari semua memang perkara komunikasi dan pertemuan yang tak lancar. Sebenarnya aku cemburu, jika kerap kali kamu dekat dengan teman"mu, tapi akupun sadar bahwa aku tak mampu memberikan hal yang sama seperti yang mereka lakukan.
Kini saat wabah COVID-19, aku tahu kamu begitu lelah. Sebagai orang yang beramanah di ruang-ruang laboratorium kesehatan, pasti energimu terkuras begitu banyak. Tapi maaf, jika akhirnya aku terlihat seperti tidak peduli. Aku hanya tidak berani mengganggu waktumu. Aku khawatir hadirku saat ini belum diperlukan. Terlepas dari itu semua, biarkan do'aku senantiasa membersamai perjuanganmu, biarkan rasa sayangku membasuh setiap peluhmu. Kuharap kamu selalu ingat, bahwa aku menyayangimu sejak dulu hingga kapanpun. Aku bersyukur atas rasa sayang yang Allah anugerahkan ini.
Semoga setiap langkah yang engkau tapaki, setiap peluh yang jatuh, menjadi saksi bagimu di yaumil akhir nanti dan membawa banyak kebaikan bagi kehidupanmu di dunia ini.
Kalau boleh kukatakan padamu, "Cay, setiap orang berjuang pada garisnya masing-masing untuk tujuan yang sama. Bukankah peran paku dalam membangun rumah juga begitu penting meski ia tak terlihat dan bahkan harus merasakan hantaman palu yang memukulnya demi menyatukan setiap bagian bangunan? Maka jangan pernah merasa sendiri, dan jikapun benar kenyataanya kamu sendiri, tetaplah tenang, karena Allah selalu ada membersamai."
Kini saat wabah COVID-19, aku tahu kamu begitu lelah. Sebagai orang yang beramanah di ruang-ruang laboratorium kesehatan, pasti energimu terkuras begitu banyak. Tapi maaf, jika akhirnya aku terlihat seperti tidak peduli. Aku hanya tidak berani mengganggu waktumu. Aku khawatir hadirku saat ini belum diperlukan. Terlepas dari itu semua, biarkan do'aku senantiasa membersamai perjuanganmu, biarkan rasa sayangku membasuh setiap peluhmu. Kuharap kamu selalu ingat, bahwa aku menyayangimu sejak dulu hingga kapanpun. Aku bersyukur atas rasa sayang yang Allah anugerahkan ini.
Semoga setiap langkah yang engkau tapaki, setiap peluh yang jatuh, menjadi saksi bagimu di yaumil akhir nanti dan membawa banyak kebaikan bagi kehidupanmu di dunia ini.
Kalau boleh kukatakan padamu, "Cay, setiap orang berjuang pada garisnya masing-masing untuk tujuan yang sama. Bukankah peran paku dalam membangun rumah juga begitu penting meski ia tak terlihat dan bahkan harus merasakan hantaman palu yang memukulnya demi menyatukan setiap bagian bangunan? Maka jangan pernah merasa sendiri, dan jikapun benar kenyataanya kamu sendiri, tetaplah tenang, karena Allah selalu ada membersamai."
Komentar
Posting Komentar