Langsung ke konten utama

Untuk Cicay

Entah kenapa begitu sulit memberimu semangat secara langsung, karena aku merasa kini kita sedikit jauh. Bukan karena jarak, sungguh jarak rumah kita tak berjauhan, namun aku khawatir justru hati kita yang mulai berjarak. Aku kembali sungkan, seperti awal ketika kita mulai bersama kembali selepas kuliah. Kusadari semua memang perkara komunikasi dan pertemuan yang tak lancar. Sebenarnya aku cemburu, jika kerap kali kamu dekat dengan teman"mu, tapi akupun sadar bahwa aku tak mampu memberikan hal yang sama seperti yang mereka lakukan.

Kini saat wabah COVID-19, aku tahu kamu begitu lelah. Sebagai orang yang beramanah di ruang-ruang laboratorium kesehatan, pasti energimu terkuras begitu banyak. Tapi maaf, jika akhirnya aku terlihat seperti tidak peduli. Aku hanya tidak berani mengganggu waktumu. Aku khawatir hadirku saat ini belum diperlukan. Terlepas dari itu semua, biarkan do'aku senantiasa membersamai perjuanganmu, biarkan rasa sayangku membasuh setiap peluhmu. Kuharap kamu selalu ingat, bahwa aku menyayangimu sejak dulu hingga kapanpun. Aku bersyukur atas rasa sayang yang Allah anugerahkan ini.

Semoga setiap langkah yang engkau tapaki, setiap peluh yang jatuh, menjadi saksi bagimu di yaumil akhir nanti dan membawa banyak kebaikan bagi kehidupanmu di dunia ini.

Kalau boleh kukatakan padamu, "Cay, setiap orang berjuang pada garisnya masing-masing untuk tujuan yang sama. Bukankah peran paku dalam membangun rumah juga begitu penting meski ia tak terlihat dan bahkan harus merasakan hantaman palu yang memukulnya demi menyatukan setiap bagian bangunan? Maka jangan pernah merasa sendiri, dan jikapun benar kenyataanya kamu sendiri, tetaplah tenang, karena Allah selalu ada membersamai."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....