Langsung ke konten utama

naskah aerial 4


              
Hassya dan Sadira sedang berbincang – bincang berdua)
Hassya             : “Apakah kau tahu sadira???”
Sadira              : “Apakah itu???”
Hassya             :”Aku sangat mencintaimu,  walau banyak perbedaan diantara kita.”
Sadira              : “Perasaan ku sama sepertimu, cinta kita tidak akan terpisahkan oleh apapun,                     aku yakin itu”
 (Hassya dan Sadira berhadapan saling tersenyum)
Hassya             : “Oh yaa..Sadira, apakah ramuan yang dibuat oleh Isla sudah selesai??”
  Sadira              :”Emmm… terakhir kali aku mengunjungi Isla, dia bilang tinggal     menyatukan Rosa nera dan batu perak.”
Hassya             : “Baguslah kalau begitu.”
(tiba–tiba Hassya merasakan hal yang aneh, ada orang yang berasal dari klan kegelapan sedang mengintip dari kejauhan)
Hassya             : “Sadira berlindunglah di sana“
 (Sadira baru akan melangkah tapi,tiba–tiba suara seorang perempuan yang sangat keras muncul dihadapannya yang tidak lain adalah Fraconia, di dibelakangnya disusul Kaien dan Blath).
Fraconia          : “Oohh..jadi ini kekasihmu yang membuat kau berpaling dariku, apakah                             wanita itu lebih baik dariku Hassya??? Jawab Hassya!!”
(Hassya hanya terdiam dan tidak berekspresi).
Fraconia          : “Jawab Hassya,, jawab!! Dan aku tak menyangka bahwa wanita yang kau                       pilih itu adalah orang cahaya musuh bangsamu sendiri Hassya.”
 (Dan sekali lagi Hassya hanya terdiam).
Fraconia          : “Aku akan melakukan apa yang memang harus aku lakukan dari dulu”
 (Fraconia mengambil belati dari pinggangnya dan menuju ke arah Sadira).
Hassya             : “Ternyata diam pun tidak selamanya emas yaa?? Ayo kita pergi Sadira”
 (sambil memegang tangan Sadira).
(Ugghh!! Sebuah tali dari sabut keras melesat ke arah Hassya, mengikat pergelangan tangannya).
Hassya             :” Apa–apaan ini, Blath?? Mundur jangan ikut campur.”
 (Blath tersenyum aneh, senyuman yang mengerikan yang tidak pernah dilihat Hassya sebelumnya , biasanya ekspresi sobatnya begitu datar dan kosong,     kini matanya tampak terlihat jahat, sorot mata itu yang memberikan jawaban pada Hassya bagaimana Fraconia tahu dirinya sedang ada di aerial).
Hassya             : “Ternyata kau Blath..”
Blath               : “Tentunya. Kau tidak akan pergi tanpa memberikan penjelasan bukan, yang                       mulia?”
 (Kejadian berikutnya terjadi dengan sangat cepat. Fraconia yang melihat posisi Hassya terikat seperti itu langsung menerjang Sadira, namun Hassya berhasil mencegah dan menjauhkan gadis itu darinya.Fraconia yang kehilangan keseimbangan langsung tercebur ke danau dibelakangnya).
 (Danau aerial yang biasanya memiliki permukaan tenang ini tiba- tiba bergolak seperti diamuk badai airnya beriak kesana kemari dan tiba-tiba permukaannya berubah menjadi merah menyala menelan tubuh fran dengan paksa, Fraconia yang bisa berenangpun tidak dapat mengendalikan situasi. Tangan kanannya menggapai–gapai, tapi tidak bisa meraih apa- apa).
Fraconia          : “Hassya tolong akuu, tolooonggggg…..”
(Hassya sudah siap terjun).
Kaien               : (Berteriak)” HASSYA JANGAN!!!”
Hassya             : “Tapi Kaien. Fraconia… “(dengan ekspresi bingung).
Kaien               : “Batu bulan itu. Seharusnya batu bulan itu (Kaien tergagap) Hassya kau tidak                  boleh Terjun!! Danau ini terkutuk.”
 (Keadaan danau semakin lama semakin tenang. Setenang kepergian Fraconia yang tidak akan pernah kembali lagi).
Blath               :” Yang mula Hassya bertanggung jawab atas kematian putri Fraconia Hadyr.                     Ia harus ikut penyelidikan lebih lanjut” (dengan suara lantang).
(Kemudian Blath memegang tangan Hassya).
Blath               :” Tidak usah melawan Hassya, pasukan pengawal sedang dalam perjalanan kesini!!”
Hassya             : “Untuk menangkap ku?? “(HHHassya kembali berdiri didepan Sadira yang                            terlalu             syok untuk berkat –kata).”Jadi semua ini sudah direncanakan??”
(Sorot mata Kaien menyatakan dirinya tidak ingin melakukan ini. Namun, dia hanya diam, terkesima, terlalu kaget atas konsekuensi perbuatannya, yang telah   menaruh batu bulan di dasar danau).
Blath               : “Sekarang serahkan putri matahari kepada kami” (dengan nada menuntut).
Kaien               : “Blath, Apa perlu??”.. (Kaien tampak ragu. Ia tersentuh melihat betapa
protektifnya Hassya pada gadis cahaya itu).
(Derap langkah serentak kaki – kaki lain terdengar tak lama kemudian, mengusik ketenangan aerial yang syahdu.Pasukan yang tadi disebut Blath hadir membawa senjata lengkap, bersiaga penuh. Seperti akan meringkus pembunuh berdarah dingin)
(Hassya meregangkan tangannya, tidak jadi meraih senjatanya di sisi tubuhnya. Tidak ada guna melawan orang sekampung begini)
Hassya             : “Lari Sadira, lari….!!!”
Sadira              : (Terkesma sesaat).“Te..tapi??!!” (Tidak mungkin ia meninggalkan Hassya                         disini)
Hassya             : “Lariiiii sekarang!!!!”
 (Dengan ekspresi enggan, hampir menangis. Sadira menguatkan hati untuk melangkah pergi meninggalkan figur Hassya yang tenggelam dalam kerumunan prajuritnya sendiri).
(Arak – arakan pasukan muncul dari istana kegelapan dan sayangnya ini bukan untuk bersuka cita. Di tengah–tengah pasukan tersebut, tampak Hassya berjalan seorang diri dengan kedua tangan terikat tali. Dari istana Toireaan berdiri keluar, tidak percaya.Ingin menyaksikan dengan mata kepala sendiri berita tragis yang didengarnya.Hassya memang agak liar dan cenderung pembangkang, tapi membunuh??Ia yakin sekali, itu bukan adiknya).
Toieraan          : “Ini pasti salah paham. Katakan itu Hassya!! Kau tidak membunuh                                   Fraconia??”
 (Laki – laki ini memajukan wajahnya. Menarik ke arah tunik Hassya yang setengah compang - camping).
Toieraan          : (Mengulangi maksudnya) “Katakan semua ini tidak benar dan aku                                    dapat membelamu Hassya!!”
Hassya             :” Tidak!!! “(menolak dengan tegas)
 (Ia malah menatap dingin kakanya, tidak hanya membenarkan tapi juga Menantangnya.Tantangan yang membuahkan bogem mentah dimukanya dari  Toireaan).
Toieraan          : “Bodoh!!” (umpatnya sekalian). “Isla juga belum selesai membuat ramuan                        Rosa Neranya dan kau malah membuat masalah, kecerobohanmu ini dapat                       menjerumuskan semuanya. Merusak apa yang telah aku, Isla kita semua                          perjuangkan selama ini Hassya!!”
(Hassya berusaha setengah mati menahan amarahnya sendiri. Tidak usah diteriaki begini ia sudah tahu konsekuensi pahitnya).
Hassya             : “Kau kira aku tidak berusaha sama sekali??”
Toieraan          : “Aku tidak melihat bukti apa – apa” (Toireaan membalas ketus. Tidak peduli                    aura syok, sakit hati, menghasi wajah hassya).
(Hassya pun akhirnya dibawa kedalam penjara. Hassya tidak melawan sebagai  pendistraksi, ia asik sendiri menyibukkan pikiran dengan bertaruh penjara mana yang akan dihuninya, apakah penjara menara yang dingin atau penuh ular berbisa? Dan tenyata hassya mendapatkan pemjara menara yang dinginnya menusuk tulang).
(sementara itu Keir dan Blath sedang melakukan pertemuan).
Blath               : (Mengeluarkan sebutir batu perak yang terselubungi kain dari sakunya). "Ini                     sesuai permintaanmu penyihir kegelapan.”
Keir                 : (Membawa lebih dekat batu tersebut di depan mata). “batu bulan terbukti                         dapat menjadi pasir hidup didalam air. Aku tidak sabar menyaksikan                                kehebatan batu perak ini”
(Keir berhasil memaksimalkan fungsi batu bulan. Akibatnya Fraconia menjadi korban, dan Hassya akhirnya di penjara. Kini putri matahari tidak memiliki kesatria yang akan melindunginya lagi).
Blath               : “Apakah kau puas yang mulia Keir” (dengan tersenyum licik)
(Keir membalas dengan senyuman diplomatis, sungguh menyebalkan baginya.Karena selama ini ia harus menunggu Blath untuk mengambilkan batu perak yang berserakan di aerial untuknya. Sampai saat ini yang tidak dapat menembus perisai pelindung di hutan tersebut, mungkin sihirnya yang begitu keji dan kotor sehingga tempat suci itu menolaknya).
Keir                 : “Tentu Blath, dan itu namanya kerja sama. Dan darah putri matahari akan ku                    dapatkan saat pesta seribu cahaya.”
Di ruang ekspolasi Isla, Isla dan Toireaan sedang berbincang – bincang.
Isla                  : “Apa? Hassya di tangkap? “(dengan nada terkejut).
 (Toireaan mengangguk lemah).
Isla                  : “Apa tidak ada yang dapat kau lakukan untuknya, apakah Hassya benar –            benar pelakunya, atau semua ini hanya jebakan?”
Toireaan          : “Sedang dilakukan peyelidikan, lebih lanjut” (Toireaan berhenti sejenak  memalingkan muka).
Isla                  :” Kau tidak apa – apa?” (bertanya cemas)
Toireaan          : (Toireaan pun terhenyak) “oh tidak, tidak apa –apa. Ehmm… bagaimana dengan persiapan ramuan rosa nera dan batu peraknya? Apakah akan selesai?”
Isla                  : “Selesai saat pesta seribu cahaya “(Isla menyediakan jawaban yang dimaksud, tersenyum dengan mata menerawang). “iya, pasti. Aku ingin kamu dapat berdansa dibawah sinar matahari”
 (Ramuan yang dimaksud Isla adalah salep anti matahari untuk Toireaan dan klannya).
                        (Dan sesuai dengan hukum keseimbangan batu perak yang ia ketahui. Keberhasilan ramuannya tidak lepas dari fungsi ganda batu perak yang baginya cukup menyeramkan . niatan Isla dengan membuat salep ini adalah baik dan berhasil itu berarti di tempat lain seseorang di tengah mengupayakan kejahatan dan berhasil juga).
                        (Di depannya, Isla melihat Toireaan mengangguk setuju dengan ekspresi sangat bahagia. Seperti ini adalah sesuatu yang di tunggu kekasihnya berabad – abad lamanya).
Toireaan          : Akan segera kita jelang saat itu isla. (sambil memegang erat tangan isla).

Keadaan Sadira setelah raja tahu kebadungan putrinya…
(Sadira tidak pernah mengira kamarnya seluas sedingin ini sudah hampir seminggu  ia berada di dalam ruangan ini, sehari – hari ia biasa menghabiskan waktu diluar selalu bermandikan matahari dan selalu menjelang pertualangan baru. Dikurung seperti ini ibarat merenggut separu jiwanya, Sadira merasa mati suri).
 (Sadira duduk bersandar di kasurnya)
Tingg...!!!
(Sesuatu yang berkilauan berada di sebelah sadira ).
Sadira              : “Berlian dari Hassya” apabila kau sedang diliputi keputusaasaan,ingatlah bahwa kita memiliki keinginan yang sama.(Kata-kata Hassya terngiang-ngiang dikepalanya ) aku ingin bertemu Hassya.

                         ( kedua tangannya mendekap erat berlian bulat sebesar satu buku jari telunjuk .
tiba-tiba pada dinding putih didepan sadira,terbentang visualisasi transparan yang menyajikan gambar ruangan gelap bertembok batu-batu besar dan disitu terlihat sosok hassya yang sedang terikat)

Sadira                          : Hassya !!! (Sadira langsung merapatkan kedua tangannya disitu, memukul-mukulnya berkali-kali tapi, tetap saja ia tidak dapat menembusnya.)
Hassya            : “ Sadi…ra?” (Hassya mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk.)
(Mereka dapat saling melihat tapi Hassya tidak dapat mendekat ke dinding karena kedua tangan dan kakinya di rantai.)
Hassya            : “Keh!! Jadi berlian itu benar-benar mengabulkan keinginanku” (hassya tertawa kecil. Keadaannya tidak baik).
  (Sadira dapat melihat darah mengering di pelipis Hassya, tidak terbayang apa yang sudah dilalui pemuda itu sampai ditempatkan diruang setinggi itu)
Sadira              : “Hassya dimana…??”
Hassya            : (Mata Hassya memandangi satu sudut ruangannya lalu menghela nafas, tampak lega) “tempat sedingin ini… sepertinya menara penjara. Tak tahu juga, aku sendiri belum pernah kesini, ini tempat tahanan kelas kakap di negeriku.”
   (Berhenti sejenak, menarik nafas kembali, sangat sulit bernafas normal di tempat yang bertekanan tinggi seperti ini). “Kejadian yang menimpa fraconia… sepertinya semua itu jebakan. Fran perenang hebat, kami pernah menyelam sampai dasar danau dan tidak menemukan satu tumbuhan dan binatang yang berbahaya didalamnya. Jadi ada orang yang menginginkan Fran mati agar aku menjadi kambing hitamnya.”(sesaat, sorot mata hassya tampak di liputi penyesalan). “Dan orang ini tahu bagaimana perasaan Fran padaku. Jadi, tidak ada alasan             untuk menyerah. Aku harus segera keluar dari sini!!”
(Kerut-kerut halus menghiasi kening Sadira, membuat paras cantiknya menjadi terlihat dramatis, ia gemas karena tidak ada yang dapat di perbuatnya untuk meringankan penderitaan Hassya).
Hassya            : “Kenapa Sadira???” (Hassya bertanya dengan gaya acuh tak acuh).
Sadira              : (Sadira tetap diam tertunduk. Ia tidak ingin Hassya melihat setengah mati menahan air mata).
Hassya            : “Kenapa menunduk terus??” (Hassya bertanya lagi lebih tegas lebih keras).
Sadira              : “Soalnya…. Aku..aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Kau terkurung disana dan keadaanku disini juga tidak lebih baik. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, kita harus memperjuangkan perdamaian, begitu banyak halangannya. Mungkin kita memang harus berperang.”(Sadira mengangkat wajahnya dan berkata secepat kilat, berharap dengan begitu ia jadi lebih percaya diri berhadapan dengan Hassya).
Hassya            : “Jangan ngomong-ngomong aneh-aneh!” (kalau kau menginginkan perdamaian, persiapkan diri  untuk perang). Diantara sekian banyak orang yang setuju dengan cara itu, aku adalah salah satu yang menolak. Sangat tidak masuk akal mewujudkan perdamaian dengan menaklukan bangsa lain. Karena yang tersisa hanya dendam, dan itu akan membawa kita pada peperangan  berikutnya.”
(Walau Sadira tidak memberi respon, ia tahu dirinya setuju dengan pernyataan tersebut. Siapapun yang akan memulai perang berarti akan menciptakan luka, sakit hati, penderitaan.. exitium).
Hassya            : “Lihat aku, Sadira!” (suara Hassya kembali penuh penekanan).
                         (Dan pada detik itu Sadira merasakan energi baru mengaliri tubuhnya. Energi yang ia kenal lemah tapi meledak-ledak. Energi Hassya, tangannya kini tengah menggenggam erat dan posesif. Memberinya kekuatan dan keyakinan. Sadira yakin sekali itu).
Hassya            : “Terus apa yang akan kau lakukan? Kamu mau melarikan diri dari semua ini? Mau mundur? Begitu?”
Sadira              :” Tentu saja tidak” (Sadira menjawab cepat, marah karena disangka pengecut. Ia memang takut, tapi ia tidak akan kabur layaknya pengecut.)” lantas bagaimana mengeluarkanmu dari situ?” (Sadira setengah berteriak).
Hassya            : “Mungkin Toireaan dapat membantuku, dengan menceritakan ini semua ini padanya”
Sadira              : “Aku tahu.” (Sadira mengangguk-angguk lalu segera bangkit, mencari cara untuk kabur dari sangkar emasnya).
Hassya            : “Dan, Sadira….” (Sadira menoleh ke Hassya lagi, masih dengan tatapan cemas).” Hati-hati”
(Ia melihat laki-laki yang biasanya serampangan ini tengah menenangkannya dengan seulas senyuman hangat).
(Setelah itu sadira langsung menemui Isla dan kebetulan sekali Toireann ada bersamanya, dan Sadira langsung menceritakan apa yang terjadi).
Sadira              : “Bahaya, Toireaan. Hassya dipenjara dimenara kegelapan. Kondisinya tidak baik, Hassya mengatakan mungkin kau bisa membantunya.
Toireaan          : “Ia aku tahu,, tapi bagaimana caranya??
Sadira              : “Kita harus bergegas!! Sekuat apapun, Hassya bisa mati apabila dipenjara ditempat sedingin itu.” (segera, setelah Sadira berada didalam kastil ia tumpahkan segala hal yang di ketahui, dilihatnya dialaminya tadi, bahwa ia dan Hassya seperti terhubung satu sama lain).
Toeriann          : “Akan segera aku pikirkan caranya”
(Sebelum Toireaan melakukan apapun, ternyata di negeri kegelapan seseorang telah memikirkan cara untuk membebaskan pangeran Hassya)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....