Langsung ke konten utama

Postingan

Malang, masih belum Tergantikan

Seperti sebuah tempat yang selalu ingin jadi tujuan ketika letih diri ini, (Ya ke tanah suci pastilah yg nomer satu, tapi ini diluar konteks). Menjadi sarana mengembalikan semangat setelah lelah berjibaku dengan segala amanah. Entah, mengapa nyaman sekali berada di sini. Jauh dari kebisingin dan hiruk pikuk, yang jelas karena memang aku tak sedang beramanah disini. Bukan tak nyaman dengan amanah lalu kabur, bukan, aku hanya sedang mencoba mengambil jeda. Bukankah rihlah menjadi bagian tak terpisahkan dalam tarbiyah? untuk menguatkan diri yang mulai rapuh, untuk menguatkan hati yang mulai keropos? Mungkin hari kemarin berat , dan dengan mengambil jeda ini, akan membuat diri kembali jernih, kembali kuat menghadapi ribuan badai yang manghadang jalan. Memungut kembali kenangan-kenangan akan terseok-seoknya diri kala masa perjuangan itu. Masa-masa jarang tidur pukul delapan, masa-masa rapat sampai pagi. Syahdunya, dulu hal yang tak disukai, namun tetap dijalani, kini ia menjadi hal ...

Jangan Ditolak Keberadaannya

Bukan hidup namanya jika diam tak bergerak. Bukan hidup namanya jika memilih mundur saat berjuang. Bukan hidup namanya jika terus lancar bebas hambatan. Suatu hari kejuatan baru hadir, mulai mengusik rasa yang tak pernah dirasa sebelumnya. Ia hadir, baru saja mengucap salam. Tapi... sejenak saja ia tak terdengar lagi suaranya. Belum sempat melihat siapakah gerangan yang datang, sudahlah pergi tanpa meninggalkan isyarat. Saat itu juga, terbesit asa untuk berpura-pura lupa bahwa tak pernah ada yang mengucapkan salam sepersekian detik itu. Sesaat setelah itu, aku meyakinkan kembali diri bahwa anggap saja memang tak pernah mendengar salam sepersekian detik tadi. Semakin ditolak kenyataan itu, semakin membawa diri pada ketidaksadaran. Semakin ditolak hal itu, semakin menghantarkan diri pada ketidakjelasan yang tak berujung. Mengapa tidak memilih menerima saja kenyataan bahwa memang tadi ada salam yang sempat terucap, hanya saja mungkin takdirnya belum beririsan untuk aku membuka pint...

Hidupkan malam

Tentang mengadu kala sunyi, tentang tersungkur kala sepi, menjauhkan lambung dari nyamannya tempat tidur. Tentang amalan ahli surga, yang sulit untuk ditunaikan. Dikala mimpi tengah indah-indahnya memaksa harus bangun dan menghadap kepada Rabbnya. Saat ini, mungkin kita bahkan begitu sulit untuk mengerjakan amalan penghuni surga itu, semoga tetap ada rasa untuk meniatkan diri melaksanakannya.  Menghidupkan malam dengan dzikrullah, dengan deraian airmata atas pengharapan ampunan. Jika hingga kini kita tak mampu merasakannya, tersebab dosa-dosa yang mungkin belum sempat kita taubati. Sebab hanya kemaksiatannlah yang akan menghalangi diri untuk melakukan amal baik.

Amankan hati

Keraguan akan senantiasa dibisikkan oleh musuh manusia. Betapa sering kita menjadi ragu ketika hendak melakukan sebuah kebaikan, menjadi was-was ketika memutuskan kebaikan. Maka dekatkanlah diri kepada Dzat yang tidak pernah ragu, kepada Rabb yang pasti mengurus makhluknya.  Amankan hati dari keraguan dengan mendekat kepadaNya, mendekat kepada yang Maha membolak-balikkan hati. Sekeras apapun hati, jika Rabbku berkehendak maka akan luluh juga.  Amankan hati dari kegelisahan, tundukkan kepala dan angkatlah kedua tangan lalu mintalah ketenangan, karena hanya Rabbku dan Rabbmu yang mampu memberikan ketenangan.

Ketulusan dalam perjuangan

Tulus berdasarkan KBBI adalah kata sifat berarti   sungguh dan bersih hati (benar-benar keluar dari hati yang suci). Sedangkan ketulusan adalah kata kerja yang berarti  kesungguhan dan kebersihan (hati); kejujuran. Dalam perjuangan ketika yang kita tuju adalah keberhasilan-keberhasilan pribadi, maka hasilnya akan hanya untuk diri pribadi. Ketika ada kritik atau saran, hati dan diri menjadi tidak menerima, merasa benar dan merasa sudah baik, maka ketulusan itu akan hilang. Kalau Aa Gym dengan gaya bahasanya bilang " kita sibuk memperbaiki cover hingga lupa dengan isi" .  Jika kita coba untuk memaknai ketulusan dalam setiap perjuangan, maka tidak ada yang kita lakukan selain mempersembahkan yang terbaik semampu kita, mampu  itu sampai batas maksimal, jika berlari mengelilingi lapangan maka baru akan berhenti ketika kita jatuh dan tak sadarkan diri. Ketulusan dalam perjuangan harus dimulai dengan keutuhan niat. Apa saja yang kita lalukan di dunia ini sejatinya ...

Impian surgawi

Berjalan meyusuri setiap jalan kebaikan, kadang berlari-lari kecil, namun tak jarang juga harus berlari dengan cepat, tersebab diri harus senantiasa bersiap di setiap keadaan. Pada awalnya, banyak ketakutan-kegelisahan yang menyertai, namun dengan sigap sahabat mengingatkan bahwa ada Allah disisi. Ya memang mencukupkan diri bahwa selalu ada Allah disisi memang membutuhkan latihan yang tidak instan. Saat impian kita adalah impian surgawi, maka dunia tak menjadi menarik dihadapan diri. Saat impian kita adalah impian surgawi maka kita hanya akan menjadikan dunia sebagai sarana menebar kebermanfaatan.  Impian surgawi tak mungkin diwujudkan dengan upaya yang minimalis, sebab surga tak diperuntukkan bagi insan yang biasa-biasa saja. Impian surgawi pun tak mampu diwujudkan hanya sendiri, butuh tim yang bekerja atas nama ketaatan pada Rabbnya untuk mampu menjadikan impian surgawi benar-bebar terwujud. Mari kuatkan kaki untuk berjalan menyusuri jalan kebaikan ini, kuatkan p...

Nasehat bagi hati

Setiap hal yang terjadi dalam hidup, semua sudah Allah yang tentukan. kesuksesan hari ini, kebelum berhasilan hari ini adalah juga bagian dari garisan takdir yang Allah tentukan. Terkadang, saat diri belum siap menanggung amanah yang kita anggap berat, Allah sudah katakan bahwa kita tidak akan dibebankan melainkan sesuai dengan kesanggupan diri. Mungkin terlihat berat, jalani saja dulu, biar Allah yang bantu untuk kuat menyusuri setiap ujian yang sejatinya akan menaikkan kedudukan kita disisiNya. Turunkan ego, jika nyatanya ego kita menghancurkan keteguhan hati. Tenangkan diri, jika nyatanya semangat menggebu membuat hati mulai berbangga. Ini tentang perjalanan yang ujungnya tak mudah kita ketahui, tapi kita yakini dalam hati. Pasrahkan diri, pada Rabb pemilik diri ini, tersebab hanya Dia yang mengetahui ihwal masa depan diri ini. Bukan tentang siapa yang bermimpi dan siapa yang berjuang. Ini adalah tentang menyatukan mimpi dan berjuang bersama. Tidak perlulah merasa paling super...