Langsung ke konten utama

BUNSAY: Komunikasi Produktif Hari Ke-9

 Temua hari ini:


Hari ini partnernya dede. Udah mepet malem, belum ada bahan kan. Qadarullah harus nemenin dede menyelesaikan PTS Praktek dari sekolah.


Tugasnya menghafal icon di aplikasi gambar. Waktu udah dihafal, trus mau direkam aku minta dede buat ngucapin salam dulu. Eh dede gamau, akhirnya ngambek. Aku mencoba mencairkan suasana, dan mengontrol diri agar tetap ramah.


Berbagai cara kulakukan untuk ngembaliin moodnya, mulai dari memberi pilihan, meminta maaf kalau bikin hatinya gak nyaman, sampai memeluknya. Eh kok gak berhasil.


Akhirnya, aku bilang ke dede. Yaudah dede tenangin diri dulu, nanti kalau udah siap bilang ya, "ka tolong bantuin dede buat video PTS" atau dede bisa melanjutkan main kalau emang gamau ngerjain PTSnya. Akhirnya setelah beberapa waktu ada suara suara ketukan. Tapi dede gabilang minta tolong, mungkin aneh buat dede. Lalu aku tanyain lagi, dede udah siap? Atau belum hafal ya?


Diapun mengangguk, ternyata dede belum hafal, jadilah kita menghafal bersama dulu. Baru deh buat video berjalan lancar.


Tantangan yang dihadapi:

 Memahami perasaan dede


Poin komunikasi hari ini:

Berkata jelas, fokus pasa solusi.


Bisa ajah kan aku jadi baper dan kesel akhirnya gamau bantuin dede. Tapi karena inget, kalau komunikasi itu beragam macem, ya mencobalah bertahan dan mengontrol diri.


Rencanaku esok hari:

Berkomunikasi dengan anggota keluarga


Bintangku hari ini ⭐⭐⭐⭐⭐

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....