Langsung ke konten utama

BUNSAY: Komunikasi Produktif Hari Ke-2

 *Temuan hari ini*:

Hari ini menjalankan rencana komunikasi yang aku buat kemarin. Tapi, untuk games bahasa cinta belum terealisasikan karena hari ini aku harus ke sekolah jadi gak WFH, dan gabisa banyak waktu sama ibu. Tapi sebelum berangkat ke sekolah, tadi aku sempet ngobrol sama ibu yang kebetulan ada ayah juga. Misi hari ini aku memutuskan untuk membicarakan tentang rencana pernikahan.

Aku: Yah, bu jadinya gimana? Mau tetep langsung walimah atau akad dulu?

Ayah: emang dari sana udah ada kabar?

Aku: belum si, tapi setidaknya kan kita punya ancang-ancang dulu yah.

Ibu: ya kalau kata ibu mah, gapapa akad dulu nanti kalau walimahnya belakangan. 

Ayah: ya gapapa, yang penting mah nanti uang belanjanya double.

Hmm, deg aku mulai berdebar. Khawatir kalau standar ayah terlalu tinggi. Kucoba tepis rasa takutku dan mulai berbicara dengan selembut mungkin.

Aku: iya yah, guru ipa bilang jangan sampe lebih dari 6 bulan prosesnya, terlalu lama. Yah, untuk mahar, barang bawaan dan uang belanja gimana kalau kita sesuain juga sama kemampuan ikhwannya. Prinsipnya ipa mah tetep, jangan sampai jadi menyisakan utang. Ipa pengen memulai rumah tangga startnya gak minus. 

Ayah: ya kalau emang ipa maunya begitu ya gapapa, ayah juga lagi usaha cari uang buat walimah biar nanti gak utang. Ya semoga ajah ipa rezekinya bagus, ikhwannya juga rezekinya bagus jadi semuanya lancar.

Aku: aamiin. 

Dalam hati kumembatin, alhamdulillah ya Allah hati ayah sudah dilembutkan. Padahal sebelumnya ayah kekeuh dengan kuantitas dan kualitas sekian sekian.

Ibu: iya, yang penting mah kita lihat kondisi kemampuan masing-masing. Nanti kita agendain untuk silaturahim ke sana ya..

Lalu diskusi berlanjut mulai dari bahas corona sampe PKI. Hehe

*Tantangan yang dihadapi hari ini*:

Gak nyangka hari ini jadi tiba-tiba pindah haluan malah jadi ngobrol sama ayah, padahal sebelumnya ngerencanain bincang santai sama ibu. Tantangan hari ini, merendahkan suara ketika berbicara sama ayah. Karena sering banget sama ayah beda pendapat, jadi khawatir ajah. 

*Poin komunikasi produktif hari ini*:

Penyampaian jelas✅

Intonasi ✅

I'm responsible for my communication result ✅

Intensity of eye contact ✅

Choose the rigth time ✅

*Rencanaku untuk esok hari*:

Melanjutkan permainan bersama ibu, mencoba mencari tahu kesukaan ibu lewat bincang santai.


Bintangku hari ini ⭐⭐⭐⭐⭐

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....