Langsung ke konten utama

Aliran Rasa Pra Bunda Sayang Institut @ibu.profesional.official


Alhamdulillah empat pekan dan empat wahana sudah terlampaui, dengan naik turunnya semangat, dengan kebingungan mencerna maksud setiap wahana, dengan positive vibes yang disebarkan oleh tim balik layar maupun depan layar IIP dan teman-teman ibu pembelajar.


Sebenarnya ini merefresh materi-materi dari kelas matrikulasi yang udah berlalu sekian lama, apalagi ada yg dari teman-teman matrikulasi batch 1 sampai 7 yang memang sangat butuh untuk me-recall.


Awal awal main di istana pasir sampe ke diving alhamdulillah lancar, dengan hasil banyak tanya ke teman dan fasil, tapi ada yang kelewat ngumpulin pas wake boarding karena bener-bener lupa waktu deadlinennya. Dengan kegiatan yang emang lagi padet ditambah kurang fokus hiks. Tadinya mau selalu post jurnalnya di IG. Tapi akhirnya tengah jalan pindah haluan ke blog. 


Ini baru miniatur perjuangan 13 bulan kedepan ya. Semangatnya dijaga, jangan kelewat kenceng larinya di awal, karena nafasnya kudu dijaga biar panjang. Nikmati hamparan pemandangan yang ada bareng temen-temen seperjuangan.


Bersyukur Alhamdulillah sekali bisa keangkut ke bunsay batch 6 ini. Apalagi selalu diyakinkan bahwa gamasalah kalau belum nikah udah ikutan kelas bunsay. Tutup telinga kalau ada yg bilang, belom jadi ibu kok ikutan kelas ibu. Hempaskan saja, karena kesempatan belajar ini lagi datang dan harus dijaga biar amanah. Menjadi yang terpilih untuk ikut belajar ini anugerah yang harus selalu disyukuri. Dan tulisan ini harus dibaca-baca lagi nanti kalo mulai kendor pas kuliah bunsay udah jalan.


Allahumma inni as-aluka 'ilman naafi'a wa rizqan thayyibaa wa 'amalan mutaqabbalaa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....