Diving? Soebuah aktivitas yang saya rindukan sejak lama. Saya suka, walaupun baru pertama kali waktu kuliah beneran diving di Bangsring Banyuwangi, pake alat dan di tempat yang sungguhan, walaupun juga dengan penuh drama hehe. Eh terus gimana bisa diving online di IIP kelas pra Bunsay ini?.
Hari ini lagi jadi cinderella di game terakhir pra bunsay di pulau cahaya dari kemarin belum sempat atau lebih tepatnya belum meluangkan waktu khusus untuk fokus. Setelah menyimak ulang materi yang disampaikan oleh Mba Maria Ulfa guidetour di wahana diving, akhirnya saya mulai menulis jurnal ini.
Mari menyelami lagi dirimu ini Syifa, seperti apa kamu itu? lalu seperti apa kamu saat ini di IIP? apa yang akan kamu perjuangkan ke depan? dan apa kesamaan dirimu dengan IIP?
Sebenernya saya bukan tipe yang suka mengungkapkan seperti apa diri saya ini. Tapi ini juga penting untuk diungkap si. Syifa adalah seorang perempuan yang sangat perhatian dengan orang-orang terdekatnya, selalu mau belajar dan kalau dapet ilmu kudu langsung dipraktekin biar gak lupa. Tapi Syifa ini orangnya terlalu banyak mikir buat ngelakuin sesuatu, yang padahal kalau sesuatu itu dilakuin ya gaakan jelek juga. Syifa orang yang kurang suka tampil di depan umum, apalagi di depan orang-orang yang belum dikenal, Syifa akan lebih dulu mengobservasi orang-orang baru itu, sampai bisa menyimpulkan harus bia bersikap seperti apa.
Sebelum belajar di IP, Syifa suka sekali lompat-lompat kalau ngerjain sesuatu yang akhirnya pekerjaannya jadi gaada yang maksimal. Suka berlebihan kalau mikirin sesuatu, misal ada temen yg left grup gitu akan jadi trigger buat Syifa merasa bersalah, kalau-kalau temennya itu left karenanya, yang kan padahal aslinya ya bukan. Syifa dulu punya luka masa kecil atau inner child negatif, yang ngebuat Syifa jadi kurang pede dan suka grasa-grusu kalau bertindak, pernah juga jadi menyalahkan orangtua di dalam hatinya dengan pendidikan yang diterimanya dengan ke soktauannya akan ilmu parenting yang pernah dipelajarinya.
Akhirnya bertemulah Syifa dengan IIP, di kelas matikulasi lah awal semuanya berubah. Syifa mulai dibenturkan hingga merasa sangat tertampar dengan materi-materi yang sebenarnya sederhana namun sarat makna. Syifa jadi lebih belajar membangun kebiasaan positif untuk mengerjakan sesuatu dengan fokus satu persatu, lebih wise dalam berpikir dan mengelola perasaannya walaupun masih tahap pemula, mulai bisa menerima inner child negatifnya dan berusaha berdamai dengannya lalu melakukan hal-hal baik dengan posstive inner childnya. Syifa jadi gak takut buat menyelami IIP lebih dalam lagi walaupun belum menikah, karena mendapatkan suntikan semangat dari semua teman belajar di IIP tentang pentingnya belajar, mempersiapkan diri dengan ilmu. Belajar menerima takdir terlahir dari keluarga yang Allah berikan, dengan segala kelebihan yang ada di keluarganya, belajar untuk bisa menjadi anak yang shalihah dan santun kepada kedua orangtuanya, walaupun masih jauh dari seharusnya.
Kedepan, saya harus terus fighting untuk terus mengembangkan diri memiliki akhlak yang mulia, karena akhlak yang mulialah ia akan bisa selamat dalam kehidupannya di dunia ini. Seperti piramida IP yang dirancang oleh pak Dodik, konseptor IP di bawah. Namun Syifa tetaplah Syifa, ia tak akan berubah menjadi Bu Septi, ini hanya salah satu jalan untuk terus memupuk semangat belajar dan menjadi perempuan shalihah yang diridhai Allah.

Komentar
Posting Komentar