Langsung ke konten utama

Terimakasih Ummi dan Abi


Sungguh sebuah anugerah, Allah hadirkan keduanya dalam hidup. Ummi-Abi adalah orang yang aku cintai dan sayangi seperti aku mencintai dan menyayangi Ayah-Ibu. Allah takdirkan keduanya menjadi ncang bagiku, tersambungkan nasab kami oleh kakek buyutku.

Tahun demi tahun berganti, hingga tiba masa kelulusan kuliahku Allah takdirkan aku menjadi muridnya, dalam pertemuan-pertemuan pekanan. Tak pernah menyangka sebelumnya akan menjadi binaan dari ummi.

Hingga hari demi hari kulalui bersamanya, aku menyadari akan kasih sayangnya yang begitu tulus. Yang menyayangi tanpa banyak kata, namun banyak hal yang dilakukan untukku. Perhatian, ilmu dan segala hal yang melengkapi dari proses pendidikan yang belum kudapatkan dari Ayah-Ibu.

Semua kasih tampak semakin terlihat, setelah setahun kebelakangan dengan hal-hal yang tak mudah menghampiri hidupku. Keduanya selalu mengupayakan yang terbaik, bahkan tanpa aku minta. Keduanya senantiasa mengasihiku selayaknya Ayah-Ibu melakukannya.

Bahkan untukku yang senang dengan kata-kata positif, seolah keduanya memenuhi lumbung cintaku dengan ungkapan-ungkapan sayangnya. Memberikan nasihat, semangat dengan penuh kelembutan.


Ummi Abii, alhamdululillah 'ala bini'matihi tatimush shalihat aku haturkan atas keMaha Baikan Allah menghadirkan engkau berdua dalam kehidupanku. InsyaAllah do'a kebaikan untuk orangtua yang senantiasa aku panjatkan, adalah juga untuk engkau berdua. Tak banyak yang bisa kulakukan, namun insyaAllah aku akan terus berupaya semampuku untuk menjadi hamba Allah yang selalu memperbaiki diri agar Allah ridho terhadap Ummii-Abii Ayah-Ibu, dan kumintakan kepada Rabbku dan Rabbmu surga firdaus untukmu semuanya...

Inilah aku yang akan terus mencintaimu karena Allah 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....