Langsung ke konten utama

KEBAIKAN MENINGGALKANKU?

Sering gak si ngerasa capek, padahal ya aktivitas gak padet-padet amat?. Atau ngerasa uring-uringan padahal gaada yg harus dipermasalahkan?. Atau rencana yg udah kita susun dengan rapih jauh-jauh hari tiba-tiba semua berantakan?.

Usut punya usut, ternyata yg salah bukan kondisinya. Kan sering si ya, kita nyari kambing hitam biar kita terbebas dari kesalahan. Setalah dicek, ternyata shalatnya gak beres, ngaret, gak fokus. Habis itu dicek lagi,  ternyata tilawahnya ditinggalin bawaannya berat buat buka mushaf Al-Qur'an yang perlembarnya beratnya ganyampe 100gr.

Kalo lagi begini, udah jelas emang ada yang gak beres. Sebab kebaikan itu gaakan mau berdampingan dengan maksiat, mungkin banget kan semua kebaikan yg kita tinggalkan itu pada dasarnya kebaikan itulah yg meninggalkan kita. Allah gak Ridho sama kita buat ngelakuin kebaikan itu, karena ada salah yg belum sempat dimintakan maaf, tersebab ada dosa yang luput dari istighfar, tersebab ada maksiat yang dibiarkan tanpa taubat.

Sebagaimana air yg jernih, tak akan mau jernih jika ada kotoran yg mencampuri. Sebagaimana kertas putih, tak akan kembali putih jika ada tulisan yang digoreskan. Harus ada upaya untuk membuat air kembali jernih, dengan menyadari penyebabnya lalu mengalirinya dengan banyak air jernih (kebaikan) dan membuat kertas kembali bersih dengan menghapus tulisannya.


Sebagaimana malam dan siang yang terlihat jelas perbedaannya, sebagaimana hitam dan putih yang mudah dikenali. Begitupun seharusnya menyadari kebaikan yang meninggalkan kita perlahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....