Langsung ke konten utama

JANGAN MEMBOHONGI DIRI SENDIRI

Jika Tidak Mampu Maka Katakan Tidak Mampu, turunkan Ego lalu Mintalah Maaf atas ketidakmampuan itu




Hari ini, 20 Agustus 2018 saya memberanikan diri untuk mengirimkan sebuah pesan kepada dosen pembimbing saya Kuliah. Setelah sempat sebelumnya pesan itu saya kirim melalui email yg tak mendapat balasan, akhirnya saya beranikan diri dengan mengirimkannya melalui aplikasi chatiing di Handphone pintar saya.

Sudah setahun saya lulus, namun seperti ada hal yang membuat saya begitu tidak tenang. Dalam tidur, bukan satu dua kali saya memimpikan Bapak Dosen Pembimbing saya terkait amanah membuat Jurnal yang tak kunjung terselesaikan. Ini hutang, maka saya harus lunasi. Namun saya belum mampu melunasinya dengan tulisan jurnal, maka saya berikhtiar melunasinya dengan permohonan maaf yang mendalam.

Menurunkan ego ternyata tidak semudah yang dibayangkan, hampir enam bulan saya memikirkan untuk segera meminta maaf namun saya masih "gengsi".. Sehingga akhirnya saya mantapkan tekad di hati untuk segera menyudahi drama ini. Cause show must go on. Amanah yang sedang dijalani saat ini membutuhkan fokus yang baik, sehingga menyelesaikan satu hutang akan membuka jalan bagi penyelesaian amanah-amanah yang lain.



_Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh_

_Pak Dosen yang saya hormati dan cintai karena Allah._

_Permohonan maaf saya haturkan terlebih dahulu sebagai pembukaan pesan saya ini. Atas ketidakmampuan saya menyelesaikan amanah/tugas dari Bapak untuk membuat sebuah jurnal._

_Sejujurnya diawal saya sangat bersemangat dan senang mendapat kesempatan ini, namun seiring waktu berjalan. Atas kelemahan dan kealpaan saya, begitu susah bagi saya untuk mengingat kembali bagaimana cara mengolah data dengan Fisat II._

_Di awal kelulusan saya memang sempat sedih, lantaran tidak bisa langsung melanjutkan studi S2 di bidang perikanan yang menjadi mimpi saya sejak menginjakkan kaki di Malang. Jangankan untuk pergi belajar ke luar negeri, di dalam negeri pun saya belum bisa. Semua karena saya belum mengantongi restu dari Ayah saya untuk itu, selain memang terkendala biaya saya yang notabene sebagai anak pertama yang mengenyam pendidikan tinggi (kuliah) sudah dinantikan kepulangannya untuk membantu mengatasi guncangan ekonomi keluarga yang tengah melanda keluarga kami setahun yang lalu._

_Hal tersebut, membuat saya akhirnya banting stir untuk mengajar. Saat ini saya menjadi guru sekaligus wali kelas di sebuah SMPIT yang jaraknya sekitar 10 menit naik motor dari rumah._

_Selama setahun ini saya berusaha untuk menyelesaikan pengolahan data yang seharusnya saya lakukan. Tapi sekali lagi pak, saya masih belum mampu mengembalikan ingatan itu, bagaimana mengoperasikan Fisat II seperti saat saya bersemangatnya menyelesaikan skripsi saya dengan dukungan Pak Dosen (1) dan Juga Pak Dosen (2) ._

_Hari-hari saya seperti dihantui penyesalan dan rasa bersalah, lantaran jurnal ini seperti hutang yang tak kunjung saya lunasi Pak._

_Saya sudah berdamai dengan kenyataan bahwa saya memang belum bisa melanjutkan pendidikan saya untuk paska sarjana setahun kemarin. Namun saya masih berusaha untuk itu, walaupun mungkin tidak dalam waktu dekat saya bisa mewujudkannya. Mohon bantuan do'anya untuk saya bisa meraihnya, dengan tetap pada jalur perikanan ataupun beralih para jalur pendidikan._

_Sekali lagi, saya mohon dibukakan pintu maaf atas janji yang belum bisa saya tunaikan pak._

_Wassalamu'alaikum warahmatullah_

_al fakir_
_-Syifa Fauziah Harly-_



Alhamdulillah, gayung bersambut. Pesan saya mendapatkan balasan dengan pesan yang baik.

Terimakasih Bapak, untuk kebaikan Bapak. Semoga Allah selalu limpahkan keberkahan dalam hidup bapak dan keluarga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....