Bukan hal yang
asing bagi kita membaca kisah perjalanan
Rasulullah SAW. Perjalanan panjang menegakkan kalimat La ilaha ilallah,
perjalanan yang mebuatnya harus meninggalkan kota kelahirannya. Kota mekkah
kota yang begitu dicintainya.
Bagitulah
sejatinya jalan setiap aktivis dakwah, jalan yang bahkan pada akhirnya memaksa
dirinya berada di di tempat yang asing sama sekali baginya. Namun nyatanya para
aktivis dakwah itu mampu bertahan hingga akhirnya melebarkan sayap-sayap dakwah
ke seluruh penjuru dunia.
Masih terekam
jelas dalam ingatan, bahwa saat Rasulullah belum diangkat menjadi Rasul semua
orang mempercayainya bahkan Al- Amin menjadi julukannya. Semua orang bahkan kaum
quraisy sekali pun menitipkan hartanya kepada Beliau SAW karena sifatnya yang begitu
amanah. Namun semua berubah ketika Allah mengangkat derajatnya untuk membawa
risalah dakwah. Ketika resmi dirinya diangkat menjadi Rasul, dengan ketakutan
Beliau pulang lalu diselimuti oleh ibunda Khadijah ra. Semua berawal ketika wahyu
turun padanya, ketika Allah jadikan ia sebagai Muslih (orang yang mengajak
untuk melakukan amal shaleh) orang-orang quraisy menuduhnya sebagai orang gila,
penyair serta pembohong. Sang Al- amin kini menjadi musuh bagi sebagian besar
penduduk makkah.
Beliau SAW
tak menyerah, tidak mundur dan lari ke belakang. Beliau tetap sabar menghadapi
setiap caci dan maki. Wajahnya pernah di ludahi, punggungnya dilempari kotoran
unta, hingga membuat anaknya Fatimah ra pun geram. Namun Beliau SAW tetap sabar
dan mendo’akan ummatnya yang masih belum tersentuh oleh cahaya islam.
Beliau SAW
yang hanya kita baca atau kita dengan melalui Kitab suci, melalui cerita-cerita
dalam shirah. Namun nyatanya seruan “ummati.. ummati.. ummati” sesaat sebelum
akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhirnya membuat kita dengan bangga
mengakui diri kita sebagai ummat Muhammad SAW. Sang Nabi terakhir, penutup para
Nabi. Sang Rasul pembawa kita suci yang sempurna dan menyempurnakan.
Komentar
Posting Komentar