Langsung ke konten utama

JBDJD (Menelisik Kisah sang Rasulullah SAW)

Bukan hal yang asing  bagi kita membaca kisah perjalanan Rasulullah SAW. Perjalanan panjang menegakkan kalimat La ilaha ilallah, perjalanan yang mebuatnya harus meninggalkan kota kelahirannya. Kota mekkah kota yang begitu dicintainya.
Bagitulah sejatinya jalan setiap aktivis dakwah, jalan yang bahkan pada akhirnya memaksa dirinya berada di di tempat yang asing sama sekali baginya. Namun nyatanya para aktivis dakwah itu mampu bertahan hingga akhirnya melebarkan sayap-sayap dakwah ke seluruh penjuru dunia.
Masih terekam jelas dalam ingatan, bahwa saat Rasulullah belum diangkat menjadi Rasul semua orang mempercayainya bahkan Al- Amin menjadi julukannya. Semua orang bahkan kaum quraisy sekali pun menitipkan hartanya kepada Beliau SAW karena sifatnya yang begitu amanah. Namun semua berubah ketika Allah mengangkat derajatnya untuk membawa risalah dakwah. Ketika resmi dirinya diangkat menjadi Rasul, dengan ketakutan Beliau pulang lalu diselimuti oleh ibunda Khadijah ra. Semua berawal ketika wahyu turun padanya, ketika Allah jadikan ia sebagai Muslih (orang yang mengajak untuk melakukan amal shaleh) orang-orang quraisy menuduhnya sebagai orang gila, penyair serta pembohong. Sang Al- amin kini menjadi musuh bagi sebagian besar penduduk makkah.
Beliau SAW tak menyerah, tidak mundur dan lari ke belakang. Beliau tetap sabar menghadapi setiap caci dan maki. Wajahnya pernah di ludahi, punggungnya dilempari kotoran unta, hingga membuat anaknya Fatimah ra pun geram. Namun Beliau SAW tetap sabar dan mendo’akan ummatnya yang masih belum tersentuh oleh cahaya islam.
Beliau SAW yang hanya kita baca atau kita dengan melalui Kitab suci, melalui cerita-cerita dalam shirah. Namun nyatanya seruan “ummati.. ummati.. ummati” sesaat sebelum akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhirnya membuat kita dengan bangga mengakui diri kita sebagai ummat Muhammad SAW. Sang Nabi terakhir, penutup para Nabi. Sang Rasul pembawa kita suci yang sempurna dan menyempurnakan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....