Langsung ke konten utama

Merawat Kebersamaan

Alhamdulillah hari ini cukup luang waktunya, selain beberes sepulang dari sekolah, aku berniat membersihkan dan mengganti air ikan koleksi suami.

Waktu pertama aku bersihin Wadan dan ganti air ikan yang ada di kamar, terlihat suami begitu senang. Maka aku mencoba melakukan yang lebih banyak, aku ingin melihat senyum kebahagiaan nya memancar dari wajahnya yang menggemaskan itu.

Sekitar satu jam aktivitas itu aku lakukan, sembari menggiling pakaian di mesin cuci. Kegiatan bersih-bersih ikan, dibantuin sama dede, lala dan tata, alhamdulillah jadi lebih ringan. Tepat saat adzan maghrib, aku baru selesai mengganti semua airnya. Iya memang ikannya sebanyak itu, ada lebih dari 30 ikan di rumah kami.

Saat ikan sudah tersusun rapih kembali di tempatnya aku mengambil videonya dan memposting di status WA, ya aku ingin memberikan kekuatan untuknya, agar suami bisa lebih semangat ngajarnya. 

Dan alhamdulillah suami senang, dan mengapresiasi. Ini kebaikan yang selalu dilakukannya, mengapresiasi hal-hal yang aku lakukan untuknya. Bukan tanpa alasan aku melakukan ini, aku teringat pesan Ummu Balqis yang beliau sampaikan melalui instagramnya, yang kutangkap saat itu, cobalah dukung hobby suami, untuk menyenangkan hatinya.. 
Ini adalah ikhtiar untuk merawat kebersamaanku dengan suami.. Sudah akan memasuki bulan keempat bersama, perlu ada penyegaran penyegaran agar rasa yang ada tetap tumbuh setiap harinya.. Memberikan pupuk, menyiraminya dengan rasa sayang, dengan harapan penuh akan ridho Allah yang menyertai..

Sekitar pukul sepuluh malam, aku mendengar suara motornya datang.. Namun seperti agak lama suami membuka gerbang... Rupanya saat sampai, ia langsung menghampiri ikan-ikannya yang sekarang sudah bersih. .

Benar saja, wajahnya memancar aura kebahagiaan saat ia masuk ke rumah dan mengucapkan salam padaku..

Syukurku hari ini, atas nikmat waktu dan kesehatan yang Allah berikan. Nikmat kebersamaan dan kesempatan yang Allah anugerahkan..

Alhamdulillah 'ala bini'matihi tatimush shalihat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....