Langsung ke konten utama

Untukmu yang Tengah Beramanah

Untukmu yang berupaya menjalankan tugasmu sebagai khalifah di bumi...

Suatu hari, satu demi satu amanah akan datang kepadamu tanpa engkau minta, namun engkaupun tak bisa menolaknya.
Amanah yang kelak engkau pertanggungjawabkan kepada Rabbmu yang telah memberikan amanah itu melalui orang-orang di sekitarmu.

Saat itu, engkau mungkin bingung, dan bertanya padaNya, apa aku sanggup ya Rabb?
Lalu engkaupun tersadar, bahwa Ia tak akan memberikan ujian di luar kesanggupanmu. Ya, karena bagimu amanah itu adalah ujian dalam hidupmu, yang akan membuatmu diridhoiNya atau sebaliknya.


  • Yakinilah, bahwa engkau memang selamanya tak akan mampu membuat siapun 100% mendukungmu atau mengingatkanmu dikala kamu salah, karena memang hanya Allah satu-satunya Rabb yang mampu akan hal itu.


Yakinilah, bahwa selama engkau menjalani amanah itu karena Allah, Ia pasti akan selalu bersamamu dan tak pernah meninggalkanmu. Sebab Rabbmu dekat, lebih dekat dari urat nadimu.

Hatimu, memang hanya Rabbmu dan dirimu yang tahu. Engkau tidak perlu mengatakan apapun kepada siapapun tentang dirimu, karena tugasmu hanya terus berusaha menuntaskan setiap amanah dengan baik dan benar. Husnul khatimah dalam beramal adalah hal yang engkau inginkan bukan? Maka untuk bisa mencapai akhir itu, engkau harus lebih dulu memulainya dengan niat lillahi ta'ala dan menjalani prosesnya dengan terus mengharap ridho dan bimbingan Allah.

Teruslah berdo'a dan berusaha, semampu yang engkau sanggup, sekuat yang engkau bisa, karena Rabbmu tak pernah tidur, Rabbmu menyaksikan apapun yang terlihat dan tersembunyi darimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....