Langsung ke konten utama

KEBHINEKAAN DAN RADIKALISME

[CINTA KASIH PENJAGA KEBHINEKAAN DAN BENTENG RADIKALISME]
oleh: Syifa Fauziah Harly
Narasumber: Banthe Khanti Daro (86 th)
Lokasi: Vihara Dhammadipa (Batu, Jawa Timur)
*Tulisan ini dibuat sebagai syarat mengikuti seleksi DM3 Jatim
__________________________________________
Tak sepatutnya yang satu menipu yang lainnya,
Tidak menghina siapapun di mana juga,
dan, tidak selayaknya karena marah dan
benci mengharap yang lain celaka
(Mettasutta)
bagian ceramah dalam majalah dhammacakka "Pandangan Buddhis Terhadap Kebhinekaan" Nomor 86 Volume 23 edisi Mei 2017, tepat pada halaman 6 sebagai pembuka dari bacaan-bacaan dalam majalah ini. tabloid atau majalah yang dikirim langsung dari jakarta ke Vihara Dhammadipa saya dapatkan atas pemberian dari Banthe Khanti Doro, saya dapatkan sebagai buah tangan atas kunjungan sore kemarin Senin, 30 Mei 2017
-----------------------------------------------------------------------------
Buddhis mengganggap bahwa "kita semua bersaudara" maka tidak ada permusuhan dan kebencian. Cinta Kasih akan membuat hidup damai dan penuh toleransi
Berbicara tentang Kebhinekaan maka kita ibaratkan seperti sebuah Taman,
Dia indah karena banyak ditumbuhi tumbuhan dengan jenis yang berbeda, sebenarnya dengan satu jenis saja mungkin akan indah tapi rasa-rasanya kita tidak akan bisa membandingkan dan menjadi penafsiran wujud syukur.
Indonesia dibangun dengan keberagaman, budaya sudah ada jauh lebih dahulu terutama di Jawa budaya itu begitu kental. sebagai contoh kita ketahui bersama Candi Prambanan dan Candi Borobudur yang begitu megahnya.
hal itu ada karena ada yang meyakini, menyakini keberadaan serta fungsinya. - itulah yang dianalogikan oleh Banthe kepada saya dan rekan saat kami berdiskusi-
Kebhinekaan kita terusik karena satu dengan yang lainnya sibuk mengoreksi tanpa memberikan solusi. sibuk menyalahkan tanpa sadar melakukan pembenahan. kita menilai salah tanpa kita mengetahuinya secara langsung. Banhte pun menyampaikan bahwa kepada siapapun kami terbuka untuk melakukan diskusi, karena budha adalah logika bukan keprcayaan. rasanya setiap agamapun mempunyai pedoman dan keyakinannya sendiri, mengajarkan perdamaian dan kasih sayang. merawat persatuan dalam kehidupan bermasyarakat.
Apabila Kebhinekaan sudah dirawat oleh semua komponen masyarakat, maka isu radikalisme tidak akan muncul. radikalisme mencerminkan kekejaman. padahal semua agama mengajarkan untuk tidak melakukan perusakan, jenis apapun perusakannya baik persaudaraan sesama umat manusia maupun perusakan terhadap bumi dan seluruh isinya. dalam hal ini Banthe menekankan bahwa lagi-lagi semua kembali kepada cinta kasih antar umat beragama, tidak akan terjadinya radikalisme yang berkembang apabila setiap diri sibuk memperbaiki dan mendewasakan dirinya, mendewasakan batinnya.
------------------
terakhir sebagai pesan sebelum meninggalkan Vihara, banthe mebrikan 3 pesan yang dirangkum menjadi satu wadah yakni, Kendi yang berisi Jamu Jati Jaran
*Kendi adalah kendalikan diri, kendalikan diri untuk selalu menjadi baik disegala hal dan tatanan kehidupan
*Jamu adalah Jaga mulut, dari ucapan dan makanan. kami yang tinggal disini sangat menjaga diri dari makanan. kami makan pukul 06.00 dan 11.00 dan diatas pukul 12.00 kami berpuasa hingga esok. kami hidup sederhana
*Jati adalah jaga tinndakan, kita harus berbuat baik kepada siapapun
*Jaran adalah Jaga pikiran, pikiran yang baik akan mengeluarkan ucapan yang baik serta dicerminkan dalam tindakan yang baik. begitupun sebaliknya
------------------------------------------------------------------------
sebuah kesempatan yang bak bagi saya pribadi dapat berdiskusi dengan Banthe sebagai peluasan cakrawala berpikir tanpa membandingkan dengan keprcayaan saya sebagai seorang muslim

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....