Langsung ke konten utama

MUSYAWARAHKAH KITA??

Aku sedang berkhayal,

hari ini aku mengikuti sidang musyawarah mufakat mahasiswa ,walaupun tak jelas arah musyawarahnya terlebih hasil untuk mufakat. sidang dibuka dengan ketukan palu dari presidium, terlihat lelah di raut wajah para presidium. ya wajar saja karena ini adalah sidang lanjutan. ruangannya sempit dan penuh sesak terisi para mahasiswa.

hari ini pemilihan ketua himpunan, namun aku bingung.  tak ada kumpul angkatan tak ada kesepakatan dalam forum angkatan. ya tak diinyana" banyak juga temanku yang mencalonkan dirinya sebagai ketua himpunan, menjadi orang nomor satu di program studi,mungkin terdengar keren.

forum ini penuh dengan ketegangan, banyak kata kasar yang terlontar, padahal katanya mereka adalah orang-orang terpelajar. Chaos pun tak dapat dihindari, namun menurutku itu kampungan. Semua mencoba mengintervensi satu sama lain, ingin pendapatnya didengar dan disepakati. semua orang tak lagi menjadi teman untuk temannya. tak ada keluarga di forum ini, yang ada hanya "aku". "Aku" yang harus menang, "aku" yang harus didengarkan. sang "aku" selalu berusaha mendominasi forum, walau ada "aku-aku" yang lain yang juga mnecoba mendominasi.

himpunananku tak lagi sama, musyawarahku telah lenyap. loobying tak menyelesaikan masalah. voting adalah hal terpenting bagi mereka.

katingku tak muncul hari ini, wajar saja kalau satu angkatan tak sependapat.
seniorku menjadi orang-orang yang sangat menyeramkan hari ini.
hari ini semua orang terlihat sangat berbeda, yang berperangai baik jadi buruk, dan yang sudah buruk menjadi tambah buruk.


untung saja aku hanya berkhayal, tak pernah terbayang jika semua ini adalah hal nyata yang kualami.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....