Langsung ke konten utama

CERPEN


SETIBANYA DI BANDUNG
Dinginnnya angin malam begitu menusuk tulangku hingga ke bagian terdalam ,  gigiku pun tak henti-henti nya bergemelutuk. Rintik-rintik hujan yang turun tak menyurutkan semangat ku dan kakakku beserta kedua kakak sepupuhku untuk mencapai puncak perjuangan kami malam itu yakni gedung X ruang 74.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya kami pun tiba di temat yang kami tuju. Namun sayang pintu masuk gedung tersebut telah dikunci. Alhasil kami pun tak sempat melihat dan memasuki ruang 74 malam itu. Namun, tak mengapa yang terpenting aku sudah tahu dimana letak gedung yang akan ku masuki untuk tes ujian mandiri UIN BANDUNG esok agar lebih mempermudah diriku.
Kruyuk kruyuuuk… suara itu berasal dari perutku dan mungkin dari ketiga kakakku juga yang semakin keroncongan karena sejak tadi baru terganjal oleh sepotong roti sobek saat diawal perjalanan dan sebuah pisang goreng seharga lima ribu rupiah perbuah di rest area kilometer 57. Cuaca memang kurang bagus karena sejak berangkat pun hujan terus mengguyur.
Tak berlama-lama kami di gedung itu akhirnya kami pun turun kembali dan hendak menuju rumah the epi, yah seorang mahasiswi uin yang hendak kutumpangi kamar kostnya untuk sekedar menumpang tidur semalaman. Kaos kakiku yang basah terkena air hujan pun kulepaskan karena dingin yang takkan kuat ku tahan bila terus kupakai kaos kakiku yang basah itu saat tibanya aku dan ketiga kakaku di rumah the epi. Setelah beberapa lama kami berbincang, akhirnya kami pun ergi menuju warung tenda pinggir jalan. Ya, sekiranya kami ingin mengisi perut kami yang sejak tadi keroncongan.
Kuteguk segelas air teh hangat tawar yang terhidang di mejaku, begitu terasa lama  menunggu ayam goreng pesananku dihidangkan. Padahal perut ini sudah semakin melilit karena kelaparan. Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba, sepiring nasi dan sepotong ayam goreng beserta lalapan dan dan sambalnya terhidang di mejaku. Tak perlu menunggu lama, langsung saja kusantap makananku itu setelah berdoa. Alhamdulillah, perlahan-lahan perutku mulai terasa kenyang. Kucuci tangankku dengan semangkuk air yang kuberi perasan jeruk lemon agar bau amisnya menghilang.
Terlintas dalam benakku batapa dinginnya esok jika kumandi dipagi buta, saat matahari pun bahkan belum muncul dari tempat istirahatnya. Saat hendak pergi meninggalkan warung tenda tak sengaja kutemukan kaca mata berbingkai putih, kuberi tahu sepupuhku akhirnyadia pun mengambilnya. Kukira dia akan mengembalikaan kepemiliknya atau mengumumkannya namun, dia malah membawanya *gubraaakkk.



SYIFA FAUZIAH HARLY

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOTEMPLASI RASA

Benar sudah kurikulum sekarang ini yang selalu menekankan pada problem solving, critical thinking, dan literasi perasaan... Karena in this economy terutama aku si milenial mendapati sekelas orangtua saja masih belum bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan anak.  Orangtua juga tidak mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, dan kerap kali selalu berusaha masuk untuk mencarikan solusi atas permasalahan anak-anaknya, yang sebenarnya anak hanya perlu dibiarkan mengeksplorasi dan mengalirkan perasaannya, kemudian berpikir kritis untuk mencari solusi dan menjadi subject penyelesain masalahnya, dan menjalani konsekuensi untuk setiap keputusannya.  Jikapun belum berhasil, biarkan ia mencobanya lagi dan lagi hingga ia terampil dalam menghadapi setiap masalah yang hadir menjadi ujiannya masing-masing saat itu dan di kemudian hari.  Karena sejatinya Allah yang akan membersamai anak itu dalam setiap ujian yang Ia berikan dalam bentuk permasalahan. 😊 Dul...

Untuk Putri

Putri Mayla Khansa, pertemuan pertama dengannya saat aksi galang dana untuk Palestina di depan gerbang veteran UB. Dulu saya kira dia anak poltek karena bawa bendera bertuliskan poltek, muka blasterannya bikin segan untuk kenalan. Setalah gabung KAMMI, saya baru tahu kalau dia anak UB karena dialah generasi pertama KAMMI angkatan 2013, bahkan di kemudian hari juga  AB2 pertama di angkatan. Syantik, shalihah, perfect lah diliatnya, ya bakal susah lah buat temenan sama dia. Gak inget kapan dan di momen apa akhirnya bisa deket. Mungkin pas sama-sama jadi pengkam, atau entahlah. Menjelang kelulusan justru kita makin deket, eh aku si yang ngerasa gitu. Nyaman ajah main sama dia, yang kalau ngasih saran ya begitu adanya dia, singkat, padat kalo lagi gak mood, kalo lagi good mood ya panjang lebar tinggi menjulang, eh apa sih haha. Pernah kita ke pantai berdua ye kan, pengen ke sendiki beach eh nyasar malah ke arah ngliyep akhirnya ke beberapa pantai deaerah situ dulu, tapi berkat i...

MUNGKINKAH AKU DIPANGGIL BUNDA

Embrio kecil itu, yang kutunggu kehadirannya dengan sepenuh harap dan doa Suara tangis pertamanya yang begitu rindu ingin kudengar Tangan mungilnya yang sudah tak sabar ingin kugenggam Pipi merahnya yang amat sangat ingin kukecup Perjalanan lima tahun menantinya, menjadi sebuah kisah yang luar biasa bagiku Diawali dengan banyak tangisan ketika setiap bulan hanya melihat garis satu pada tiap tes kehamilan yang kujalani Sempat juga marah dan bertanya-tanya kenapa perjalanan ini tak sesuai ekspektasiku Orang-orang terdekatkupun kuanggap tak bisa mengerti remuk hancurnya perasaanku menjalani hari-hariku, karena yang kurasakan seolah mereka tak berempati pada diriku Kumenjauh dari keramaian, mengasingkan diri dalam kamar yang sepi... Hanya ada aku dan kesedihanku dalam penantian...  Hari berlalu, perasaanku membaru...  Kini sedih dan kecewa itu telah terbang terbawa angin...  Yang ada sekarang perasaan harap dan kepasrahan kepada pemilik takdir kehidupan Allah yang Maha Besar....