Langsung ke konten utama

Postingan

Malamku bersama Ayah

Entah, kenapa selalu lega setelah mencurahkan rasa padanya. Membicarakan impian-impiannya, yang hampir semua impian itu adalah untuk kami anak-anaknya. Entah, kenapa begitu nyaman saat aku menyampaikan mimpi-mimpiku padanya. Seolah ia selalu mengatakan, bahwa aku mampu dan jalannya tidak akan sesulit yang ada di benakku, aku hanya harus terus berusaha. Ayah, bagaimana mungkin aku membiarkan mimpimu tak terwujud. Selama diri masih bernyawa, kan ku ikhtiarkan semampuku. Mimpimu hanya satu, agar adik-adik mendapatkan pendidikan yang layak, agar masa depannya lebih baik. Ayah, kau benar. Orang di luar sana melihat kita saat kondisi kita sudah baik seperti sekarang, mereka tak menyaksikan saat kau pergi pagi pulang malam namin tak membawa uang. Saat aku mencari kayi bakar dan ibu memasak terasi goreng di tungku yang berasap itu. Saat aa Icay harus bersekolah sembari menjadi ojek anter-jemput tetangga yang menjadi karyawan pabrik. Ayah, seperti yang kita bicarakan malam ini semoga s...

OBAT KALA TERGELINCIR

Manusia memang mudah sekali tergelincir, sebentar saja baik, lalu jatuh lagi pada kesalahan. wahai diri, maka sekuat apa kau beruapaya meraih ridho Rabbmu tanpa menginsafi dosamu?. Wahai diri, apa yang kau cari selain indahnya kasih sayang Rabbmu? Semudah itu kau beranggapan, semudah itu kau merasa baik, dan semudah itu kau menyalahkan orang lain atas kejumawaan dirimu. Apa yg mampu kau jadikan bahan kesombonganmu, saat tersandung kerikil saja kau jatuh? Apa yang mampu kau jadikan bekal bertopeng diri di hadapan manusia, padahal kau sadar dosa-dosamu tidaklah seujung kuku? Wahai diri yang kerap kali menyakiti sesamamu, sudah berapa jauh usahamu mengejar maaf? Wahai diri yang kerap kali merasa lebih baik, apa bedanya kau dengan makhluk Allah yang telah dikutuk itu? Bukankah ia dikutuk lantaran merasa lebih baim dari adam? merasa bahwa api lebih baik dari tanah? Insyafi diri wahai diri, istighfarmu yang sedikit itu niscaya tak akan mampu menjadikan dirimu kembali baik. Moh...

BANGKIT

Jatuh sesekali tak apa, agar tahu rasanya bagaimana harus bangkit. Jatuh beberapa kali pun tak apa, agar lebih paham bagaimana selain  bangkit kita juga harus melanjutkan langkah. Bukan berdiri dan terdiam dalam keterpanaan. Selalu ada kesudahan yang baik bagi kita yang senantiasa berusaha menjadi baik. Selalu ada ujung dalam setiap jalan, meski harus jauh kaki melangkah. Awalnya sulit, tak apa karena itu wajar. Justru keterjatuhanmu itu menunjukkan dan membuktikan bahwa kau hanya makhluk bumi yang bisa terjatuh. Lebih dari hanya sekadar perasaan tenang, bangkitnya kamu dari jatuhmu hari kamarin, harus membawa perubahan signifikan dalam hubunganmu bersama yang Maha Penolong, yang telah memberikan rasa tenang dalam dirimu. Yang sudah biarlah sudah, memang tak mungkinlah dilupa namun bisa dimaafkan dan ditempatkan sesuai tempatnya. Selama kita masih berjalan dalam koridor yang sesuai, niscaya kita tak akan tersesat. Bukankah kita tak pernah kecewa dalam berdoa kepada Rabb k...

Malang, masih belum Tergantikan

Seperti sebuah tempat yang selalu ingin jadi tujuan ketika letih diri ini, (Ya ke tanah suci pastilah yg nomer satu, tapi ini diluar konteks). Menjadi sarana mengembalikan semangat setelah lelah berjibaku dengan segala amanah. Entah, mengapa nyaman sekali berada di sini. Jauh dari kebisingin dan hiruk pikuk, yang jelas karena memang aku tak sedang beramanah disini. Bukan tak nyaman dengan amanah lalu kabur, bukan, aku hanya sedang mencoba mengambil jeda. Bukankah rihlah menjadi bagian tak terpisahkan dalam tarbiyah? untuk menguatkan diri yang mulai rapuh, untuk menguatkan hati yang mulai keropos? Mungkin hari kemarin berat , dan dengan mengambil jeda ini, akan membuat diri kembali jernih, kembali kuat menghadapi ribuan badai yang manghadang jalan. Memungut kembali kenangan-kenangan akan terseok-seoknya diri kala masa perjuangan itu. Masa-masa jarang tidur pukul delapan, masa-masa rapat sampai pagi. Syahdunya, dulu hal yang tak disukai, namun tetap dijalani, kini ia menjadi hal ...

Jangan Ditolak Keberadaannya

Bukan hidup namanya jika diam tak bergerak. Bukan hidup namanya jika memilih mundur saat berjuang. Bukan hidup namanya jika terus lancar bebas hambatan. Suatu hari kejuatan baru hadir, mulai mengusik rasa yang tak pernah dirasa sebelumnya. Ia hadir, baru saja mengucap salam. Tapi... sejenak saja ia tak terdengar lagi suaranya. Belum sempat melihat siapakah gerangan yang datang, sudahlah pergi tanpa meninggalkan isyarat. Saat itu juga, terbesit asa untuk berpura-pura lupa bahwa tak pernah ada yang mengucapkan salam sepersekian detik itu. Sesaat setelah itu, aku meyakinkan kembali diri bahwa anggap saja memang tak pernah mendengar salam sepersekian detik tadi. Semakin ditolak kenyataan itu, semakin membawa diri pada ketidaksadaran. Semakin ditolak hal itu, semakin menghantarkan diri pada ketidakjelasan yang tak berujung. Mengapa tidak memilih menerima saja kenyataan bahwa memang tadi ada salam yang sempat terucap, hanya saja mungkin takdirnya belum beririsan untuk aku membuka pint...

Hidupkan malam

Tentang mengadu kala sunyi, tentang tersungkur kala sepi, menjauhkan lambung dari nyamannya tempat tidur. Tentang amalan ahli surga, yang sulit untuk ditunaikan. Dikala mimpi tengah indah-indahnya memaksa harus bangun dan menghadap kepada Rabbnya. Saat ini, mungkin kita bahkan begitu sulit untuk mengerjakan amalan penghuni surga itu, semoga tetap ada rasa untuk meniatkan diri melaksanakannya.  Menghidupkan malam dengan dzikrullah, dengan deraian airmata atas pengharapan ampunan. Jika hingga kini kita tak mampu merasakannya, tersebab dosa-dosa yang mungkin belum sempat kita taubati. Sebab hanya kemaksiatannlah yang akan menghalangi diri untuk melakukan amal baik.

Amankan hati

Keraguan akan senantiasa dibisikkan oleh musuh manusia. Betapa sering kita menjadi ragu ketika hendak melakukan sebuah kebaikan, menjadi was-was ketika memutuskan kebaikan. Maka dekatkanlah diri kepada Dzat yang tidak pernah ragu, kepada Rabb yang pasti mengurus makhluknya.  Amankan hati dari keraguan dengan mendekat kepadaNya, mendekat kepada yang Maha membolak-balikkan hati. Sekeras apapun hati, jika Rabbku berkehendak maka akan luluh juga.  Amankan hati dari kegelisahan, tundukkan kepala dan angkatlah kedua tangan lalu mintalah ketenangan, karena hanya Rabbku dan Rabbmu yang mampu memberikan ketenangan.